17 January 2017

Menikmati Rasa Bersalah Dalam Makanan yang Tak Berdosa, Oh Daging Asap

Bastard Platter, yang bener-bener bastard dalam mulut dan perut

Jangan lupa inget dosa, kalau udah ketemu kenikmatan semacam ini. Niscaya bisa "kenyang bego".




Laper itu jangan ditahan-tahan, begitulah ajaran orangtua saya selama ini. Mereka tidak menghalangi saya makan, hingga berpiring-piring banyaknya. Hal ini demi memastikan anak-anaknya tidak kelaparan, tidak mencuri buah belimbing ranum yang ada di rumah sebelah, atau sekedar tidak memanjat pohon rambutan, tanpa izin dari si empunya. Ajaran ini akhirnya membuat saya memiliki berat badan, seukuran karung beras yang ada di pasar induk.

Kebiasaan tak menahan lapar ini akhirnya memiliki dampak buruk hingga berpuluh tahun kemudian, dimana kaki sudah mulai sulit melangkah. Indikasi lain yang muncul adalah sendi yang mulai sering nyeri, dan pipi yang sudah oversized dari rasio wajah yang tampan. Akhirnya saya bertekad untuk berubah, mencari pola makan yang sehat dan berhenti makan nasi.

Ini serius, berhenti makan nasi yang menginjak tahun ketiga.

Ngga usah diet kalau lagi liputan mah, cobain aja semuanya jangan ragu

Lukisannya bagus, interiornya asyik, dan AC nya juga kenceng.

Frasa di atas memang membunuh naluri saya untuk menahan diri memakan hidangan yang tidak semestinya masuk dalam perut. Salah satu contoh nyata yang harus saya hadapi adalah, menikmati daging asap seberat 1 kilogram dalam satu nampan besar. Nampan? Ya, tidak salah lagi, sebuah nampan yang digunakan untuk menyajikan sebuah rusuk sapi besar yang memiliki berat setengah kilo. Ditambah lagi dengan seperempat kilogram daging dada sapi, dan empat potong ayam goreng tepung.

Nampan berisi daging ini disebut Bastard Platter, merupakan menu makan besar yang ada di Carne Smokehouse, Cipete Raya, Jakarta. Satu nampan yang berisi daging yang sudah diasapi selama 12 jam ini, bisa dikonsumsi oleh 4 orang sekaligus dan menghasilkan rasa kenyang yang sama. Tak pelak lagi, daging hangat yang baru keluar dari dapur langsung membuat saya takut. Takut dosa.

"Udah mas, coba, makan aja, ngga usah diet kalau lagi liputan mah, cobain aja semuanya jangan ragu," ujar Mas Pasha, public relation yang membawa kami untuk memberikan penilaian terhadap makanan yang baru saja terhidang di atas meja.
Si Bastard Platter kalau dilihat dari dekat. Ribsnya, ya Allah enak parah.

Dosa. Itulah kata yang langsung terbersit di otak. Bayangkan, berapa kalori yang harus saya terima ketika mengonsumsi daging rusuk sapi yang sangat berlemak dan nikmat itu? Berapa kalori yang harus saya telan ketika mengombinasikan daging brisket atau dada sapi, dengan roti panggang campur saus barbeque? Ayam yang dihidangkan dengan cara di deep fried ini apakah aman untuk perut, yang sudah mulai terbiasa makan sedikit lemak?

"Banyak orang yang tidak tahu kalau makan barbeque harus memakan salad dan pickles (acar timun), supaya lemaknya berkurang. Orang Texas juga biasa memakai tangan kalau mereka makan barbeque.", ujar Mas Medi, owner dari Carne Smokehouse.

Tetap saja mas, saya ngucap astaghfirullah dalam hati. Tapi, kewajiban ngunyah harus dilaksanakan demi liputan dan self experience yang asli supaya makin lancar tulisannya. Sebelum dosa yang lainnya datang menghadang, saya harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini.

Dosa kedua, serbuan donat yang berubah jati diri jadi burger daging ekstra tebal

Ini dia, si donat yang berubah jati diri, dengan nama : Triple Threat Glazed Doughnut Burger
Ujian tidak berhenti disitu, setelah saya dan rekan wartawan lainnya meng-iya-kan untuk mencoba menu andalan lainnya. Sebuah donat Krispy Kreme yang dipotong dua, ditambah dengan tiga buah patty dari daging sirloin, dan diberi saus keju hingga meleleh. Tak lupa dengan tambahan pickles bak Krabby Patty di Spongebob Squarepants, serta kerenyahan tortilla chips ala Mexico sebagai teman mainnya.

Melihatnya keluar dari dapur, saya langsung menyesali keputusan yang telah dibuat. Menyesal menyicipi donat yang memiliki 190 kalori, dan patty 240 kalori di setiap lembarannya. Apalagi saus keju yang dengan sangat mengejutkan, punya 174 kalori di setiap 100 gram penggunaannya. Langsung saja saya bertanya, apakah makanan yang memiliki jati diri ganda ini punya penawar seperti salad?

"Ngga mas, kalau donat burger semuanya dosa, hahaha," ujar Mas Eddy, owner Carne, tanpa rasa bersalah.

"Mari nikmati dosa didalam makanan yang tak berdosa," kata saya lantang.

Langsung para wartawan lainnya tertawa, bahkan Mas Pasha juga tidak bisa menyembunyikan tawanya. Tapi tetap saja dosa hari ini tidak akan saya sesali, karena kualitas makanan yang oke punya. Mulai dari ribs yang juicy dan mudah di potong, brisket yang sangat nikmat dengan smoke circle sebagai bukti pengasapan sempurna, hingga sajian side dish yang membuat perut saya kenyang.
Bagi yang berminat mampir, harganya sudah terpampang nyata. Harga mengikuti kualitas
Ternyata, selidik punya selidik, mereka menggunakan cara khusus untuk memasaknya. Selain menggunakan metode pengasapan, Carne Smokehouse menggunakan kayu dari pohon rambutan, sawo, dan lengkeng, untuk menjaga api tetap pada suhu yang sama, 80-100 derajat. Bahkan mereka menggunakan tungku asap yang dibuat secara manual, sesuai dengan cara tradisional Texas yang mereka pelajari melalui buku dan youtube.

"Kenyang bego" setelah sampai kantor, hingga magrib menjelang 

Rasakan pembalasanku, hahahaha. Terimalah senjata "kenyang bego" sampai di kantor!
Setelah mengendarai motor di jam sibuk dari Cipete Raya menuju kantor di kawasan Senayan, perut masih belum bisa kompromi setelah berjuang menghabiskan dua menu luar biasa tadi. Bahkan ketika sampai di meja, saya lebih memilih merebahkan kepala di depan laptop, dibanding membuat tulisan dari hasil liputan. Akhirnya saya bertanya kepada Dikta, wartawati dari kanal kesehatan.

"Ta, lo ada obat buat nyembuhin "kenyang bego" ga? Perut gue kekenyangan nih, gara-gara liputan daging asap," tanya saya, dengan kepala tetap diatas meja.

"Ada bar, lo nari aja sesuai dengan video ini," ujar Dikta sambil memperlihatkan smartphonenya.

Dikta suruh saya menari balet. Terima kasih atas obatnya.

Akhirnya sampai magrib, saya tidak bisa dan tidak mau melakukan apa-apa. Bahkan nasi kotak yang menjadi surga pada sore hari, kali ini bisa saya abaikan demi kemaslahatan tubuh. Bukannya tidak selera, namun tidak ada tempat lagi dalam perut ini yang bisa menampung makan malam. Padahal keesokan harinya, saya harus liputan ke salah satu hotel berbintang di kawasan Sudirman yang membahas tentang kuliner.

Sepertinya besok akan lebih berbahaya kawan, dosa baru lagi setelah menyantap 10 rangkaian makanan untuk tahun baru Imlek.

Saran saya, banyaklah olahraga iman supaya tidak berdosa.

Terimakasih atas perhatiannya,
Akbarmuhibar



0 comments: